Masa Putih Abu-Abu
Untuk kali pertama dalam hidupku aku tidak mengikuti jenjang sekolah abangku, sebelumnya SD sampai SMP aku mengikuti dimana abangku bersekolah, disana pula aku bersekolah. Saat menjelang kelulusan SMP, Kakak sepupuku tinggal dirumah, namanya Kak Tety, Kak Tety ini adalah alumni dari SMA ku. Singkat cerita, mengapa akhirnya aku memetuskan bersekolah di SMA 7 Medan. Yang pertama adalah karena ada ekskul Cheers, ya aku ingin sekali menjadi pemandu sorak seperti FTV dengan kisah anak SMA pemain basket dan anak cheers yang terkenal. Masuk ekskul Cheers adalah salah satu diantara 50 mimpi masa remajaku. Kemudian yang paling membuatku memilih sekolah disana adalah karena angkutan umum menuju sekolah hanya 1 kali naik angkot, sedangkan beberapa pilihan SMA dekat dari rumah malah harus nyambung angkot. Dan itu sangat tidak aku sukai selama aku dijenjang Sekolah Menengah Pertama. Jelas saja kala mendaftar aku dag dig dug, saat itu masuk sekolah masih sistem rayon, ya sekolah asalku dan rumahku bukan rayon dari SMA tujuanku. Walaupun angkot 1 kali ini rutenya jauh hampir 20 - 30 menit naik angkot baru sampai disekolah. Saat pendaftaran aku mendaftar dengan Friska atau Nikmah aku lupa, teman yang kuharapkan satu sekolah denganku tidak lulus dan aku lulus. Nyaris sebelum pengumuman orang tuaku sudah mengajukan ide untuk membeli bangku di SMA favorite disekitaran rumahku, namun dengan tegas aku menolak, bukan karena sok yakin akan lulus, namun memang aku sangat idealis untuk hal - hal seperti itu. Alhamdulillah aku lulus disekolah yang benar-benar baru, tanpa teman satu SMP, teman satu rumah, dan tentunya tanpa kenalan sama sekali.
Tahun pertama di SMA aku menyadari teman SD ku ada yang sekolah diarea sekolah ku, ya jadi jalan menuju SMAku harus melewati beberapa sekolah, jadi pergi dan pulang sekolah Jalan Timor namanya, sangat ramai. Namun aku si ratu telat, berangkat dari rumah sudah pukul 7.00 WIB, bel sekolah 7.15, sedangkan aku masih turun dari angkot dan berjalan cepat menyusuri jalan utama menuju sekolah dan itu lumayan jauh, hampir setiap hari terlambat, kalau tidak salah ingat drama terlambat itu dimulai saat aku kelas 2 SMA. Saat kelas 1 aku masih datang tepat waktu, sesekali terlambat namun tidak sampai dipanggil orang tua. ya Saat kelas 2 atau kelas 3 malah orang tua dipanggil kesekolah karena 3 hari berturut turut terlambat, diberi peringatan 1 dan peringatan ke 2. kali pertama ayah yang datang, namun peringatan ke 2 aku tak berani mengatakan pada ayah. Syukur saat itu ada abang tertuaku yang bisa diajak kerja sama. Semenjak saat itu tak mau sampai datang peringatan ke 3, aku mulai bangun pagi dan pergi pukul 7 kurang 15 menit.
Masa SMA, adalah masa dimana aku memulai segalanya, khusunya memulai untuk berhijrah. Tahun pertama menjadi anak Sekolah Menengah Atas aku menjadi sosok yang sulit dijelaskan dnegan kata - kata. memakai pakaian ngepas ala FTV deh, ditambah lagi saat nampil cheers juga bajunya super mini dan pemikiran pemikiran yang datang juga sulit dijelaskan dengan kata - kata. pertengahan kelas 2 kala itu ada acara pesantren kilat di sekolah, ada siraman rohani atau semacamnya, yang buat air mata tertetes mengingat dosa khususnya dalam adab berpakaian dalam islam.
kemudian aku mulai meninggalkan cheers secara perlahan, dan mau mencari ekskul yang bisa memberiku jawaban atas banyak pertanyaanku, ya kala itu aku ingin masuk menjadi anak Bina Mental Islam, namun ada satu waktu dimana setelah aku interview ekskul Bintalis SMA ku, aku lanjut latihan cheers dengan niatan itu adalah penampilan terakhirku. Malang ternyata petinggi ekskul Bintalis sangat menentangku masuk ekskul agama islam. Sempat aku marah dan merasa "kenapa sih untuk hijarah aja ditentang" dan sampai lulus aku tidak tercatat sebagai anak Bintalis, namun kisahku menjadi sebuah kenangan indah bagi diriku sendiri.
Proses awal hijarahku berlanjut, aku mulai menggunakan kerudung dan pakaian panjang untuk sekolah, rok pendek sesekali aku pakai namun perlahan aku lebih n yaman untuk memakai rok panjang, kemeja lengan panjang dan kerudung. ada pada suatu waktu aku masih lepas pasang pakaian muslimku kala itu. Keluar dari ekskull cheers aku membangun kembali ekskul teater disekolahku, aku juga mulai menemukan cara terbaik belajar versiku, menemukan teman sekelas yang asik, mengukir kisah SMA yang indah dan penuh kenangan, tak hanya kenangan indah namun juga kenangan pahit, sedih, dan tentunya banyak lucunya. Ya seorang anak SMA dengan banyak mimpi, banyak halang rintang dan aku melewati 3 tahun masa itu dengan sebuah senyuman bahwa keputusanku memilih sekolah sendiri adalah pilihan yang tepat.
Hikmahnya adalah aku memiliki teman yang terpencar jauh bahkan diluar area mainku, namun ada ngak enaknya juga sih, karena terlalu jauh kadang suka ngak ada waktu buat ngumpul dan kini aku merindukan masa-masa SMA, merindukan kelas yang sesaat hening dan kemudian tertawa terbahak - bahak karena celetukan seorang teman yang berkata "kok diam, setan lewat". Jika harus mengulang masa SMA mungkin jawabnya tidak, namun jika diberi kesempatan aku ingin berkumpul bersama teman - teman SMA ku untuk bernostalgia.
Komentar
Posting Komentar