Nostalgia Diri
Aku adalah seorang perempuan biasa yang lahir , tumbuh dan besar di kota Medan. Kota yang menyajikan banyak kuliner, terdiri dari banyak etnis dan kota berjuta kenangan bagiku. Masa kecilku samar terlintas bayangan seorang anak kecil yang disuruh tidur siang, malah bermain di tempat pembuangan sampah dan akhirnya lututnya terkena kaca dan mendapat 7 jahitan. lagi - lagi karena tidak mendengarkan perintah mamakku yang pada saat itu sangat cerewet bagiku. Kala itu rumah kami sedang direnovasi, banyak tumpukan kayu namun aku asik bermain disana. Sendalku bahkan kakiku tertusuk paku yang sudah berkarat. Masa kecilku seperti anak kebanyakan, main masak - masakan dari mulai masak pasir, masak sisa sayur, masak daun - daunan, bunga, hingga pakai masak dengan api dari lilin.
Pernah suatu magrib, dimasa kecilku aku mengganggu nenekku yang sedang solat dan langsung mamakku memegang cabe mengejarku. Berkali - kali aku kena repetan mamakku karena ulahku yang ternyata mengesalkan. Saat dikelas 1 dan 2 sama sekali aku bukan murid yang pandai, aku tak Tk jadi itulah 2 tahun awal aku belajar disekolah, saat dikelas 3 aku menemukan kali pertama hasrat untuk menyukai proses belajar. Semenjak kelas 3 hingga lulus SD juara 3 besar selalu kuraih. berkali - kali aku membuat orang tuaku senang karena dapat gratis uang sekolah 3 bulan hingga 6 bulan uang sekolah. Masa SD ku selain meraih juara kelas, aku juga murid yang bandal, main karet didalam kelas bahkan hingga jungkir balek untuk menggapai karet tertinggi, mengejek nama orang tua kala itu adalah hal yang membuatku sangat marah, dan pernah teman laki- lakiku yang berbadan besar aku tumpahi cabe dibangku tempat duduknya dikelas.
Kali pertama aku mengagumi lawan jenis juga di tingkat SD sekitar kelas 2 kalau tak salah ingat. Ada murid pindahan yang rapi, berwajah tampan dan pintar. Awalnya dia dikelas yang sama dneganku, namun beberapa hari dia pindah kelas. Aku dan temanku bahkan mencari rumahnya, yang ternya tak jauh dari sekolah, rumahnya berhalaman besar, banyak tanaman dan terlihat mobil dihalaman rumanya. Diam - diam aku mengaguminya dari jauh. ternyata hanya satu tahun disekolah yang sama, dia pindah sekolah dan entah kemana. tapi namanya masih aku ingat karena unik. Gugi namanya.
Tersenyum mengingat anak berusia baru 7 tahun sudah mulai mengagumi lawan jenisnya, hingga mengikutinya kerumah. Ya aku masuk SD diusia menjelang 6 tahun. Kemudian aku tak lagi mengagumi lawan jenis, malah kebanyakan menjadi teman berantam, saling ejek, bahkan pernah saling tendang.
Masa SD ku tak hanya mengahabiskan waktu di sekolah, aku juga bermain bersama teman rumah yang berbeda sekolah namun kami tetangga rumah, Nikmah namanya, berteman dari kelas 4 atau 5 SD. Darinya aku tau lagu westlife, M2M, dan beberapa lagu dangdut. Karena dirumahnya banyak VCD lagu barat. Kami juga suka membuat tarian, suka mengobrol, suka makan bersama, suka mengisi diare bersama dan bahkan tidur siang bersama. Beberapa moment peralih dari anak kecil menuju anak remaja kuhabiskan dengan teman rumahku ini.
Beranjak ketingkat SMP kami tetap beda sekolah, aku masuk sekolah negeri dan Nikmah masuk sekolah swasta. pulang sekolah adalah waktu yang kami nantikan untuk berbagi cerita disekolah. Dari a- z kami ceritakan, tak jarang kami saring meninggikan cerita, namun ada satu cerita yang tak bisa kutandingi kala temenku bercerita tentang pengalaman pacarannya bersama anak SMA. Antara seru mendengarnya, dan iri sih. Sedangkan aku SMP hanya murid yang rute angkotnya jauh dari rumah, pergi sekolah diatar sampai simpang, tak jarang aku naik angkot 2 kali. Dan aku pertama kali merasakan terlambat kesekolah, mengendap - endap untuk masuk melewati belakang sekolah yang dipagar kawat besi, berkali- kali jalan jongkok dan keliling lapangan karena terlambat. Kelas 1 SMP, aku berkenalan dengan banyak orang yang tidanggal jauh dari rumahku, duduk bersama Dwi, si suara lembut yang cantik.
Di SMP aku kali pertama merasakan disukai abang kelas, padahal jelas aku tidak menarik berambut ikal, gaya urakan, dan malu-maluin. Jadi jelas saja kisah romansa dimasa SMP ku tak bisa disandingkan dengan teman masa kecilku, Nikmah. Semenjak masuk SMP kami mulai jarang untuk menghabiskan waktu bersama, karena kesibukan ekskul yang berbeda, ya aku mulai menyukai seni tari, moderen Dance. Kala itu kami membuat team bersama Friska, Singgih, Andra, Kiki dan Uci. Menari lagu india dengan setelan armi. Ya Ampun rasanya pengen jungkir balik ketawain masa-masa dimana berasa paling keren, nampil di acara perpisahan Kelasa 3. Ketika naik kelas 2, kami juga terus menari hingga kelas 3. Masa-masa paling sok keren sih menurutku, Dimana pernah sok -sokan bawa hp ayah kesekolah, eh ternyata tas ku dicampakkan teman laki-laki, dan layarnya pecah. Syukurnya aku dipertemukan dnegan teman-teman yang baik. Johan ya dia mengganti layar HP yang pecah itu dan menyelamatkan ku dari kemurkaan mamakku.
Selain itu ada Aftika, teman sebangkuku saat kelas dua. dimana setiap ada tugas bebikinan kelompok selalu mengerjakan dirumahnya, dan yang kuingat mamaknya sangat baik, setiap kami datang selalu ada makanan. Ada juga Andra, teman sebangkuku kelas 3, kami duduk paling depan, aku memilih paling depan karena saat itu mataku sudah rabun namun menolak untuk pakai kaca mata. Andra cewek tomboi tapi super baik, selalu rajin mengingatkan kalau ada tugas dan lain hal, banyak cerita konyol yang aku ngak mampu mengingatnya satu persatu. Nah dibelakang kami ada Friska dan Singgih. Kami berempat sering buat tantangan yang aneh - aneh dan itu menjadi salah satu hal yang mengasyikkan saat disekolah dulu.
Rasanya ingin sekali aku menceritakan kembali satu persatu sosok teman temanku dalam untaian tulisan. Beranjak SMA aku mulai mengepakkan sayap ke sekolah yang lebih jauh, dan aku rasa disanalah aku memulai ceritaku hijrahku.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar