Tentang Berhikmah


Pagi menjelang dan saat ini sudah pukul 2.26 wib, Dammar sudah tertidur pulas, begitu pula ayahnya yang sudah mengeluarkan suara ngorok. Diluar hujan dan dinginnya terasa hingga menembus kulit. Begadang kali ini dengan tujuan menyelesaikan cerpen untuk buku antologi bersama teman - teman RBAN. kalau diingat - ingat tahun ini rekor terbanyak menulis buku cerita anak namun belum ada yang berhasil untuk diterbitkan. kadang untuk berhasil kita harus berulang kali merasakan gagal. Ternyata kegagalan itu dialami sebagai penguat apakah keinginanmu benar benar kuat atau hanya sekedar keinginan yang semu. bagaimana ingin menjadi seorang penulis buku jika menulis saja jarang - jarang, tidak melatih kemampuan, tidak menambah keilmuan. Ya malam ini aku menemukan sebuah hikmah dibalik makna tentang keinginan. Imam Ali Bin Abi Thalib berkata “Saat doaku dikabulkan aku bersyukur karena itulah keinginanku, saat doaku tidak dikabulkan aku lebih bersyukur karena itulah keinginan Allah”. sebagai manusia yang banyak inginnya kadang kita melupakan bahwa keinginan keinginan tersebut adalah bukti bahwa kita serakah. ketika kita ingin untuk menikah, kemudian kita ingin memiliki anak, setelahnya ingin anak kedua dan seterusnya, setelah anak - anak semakin besar, ingin punya menantu, cucu dan terus menerus ingin ini ingin itu banyak sekali.

Apakah salah jika memiliki keinginan? tentu tidak kadang keinginan mampu membuat kita melangkah kearah yang lebih tinggi, namun apakah itu baik atau buruk tergantung keinginan kita. Ya dalam hal ini keinginan bisa jadi dengan niat. Bayangkan betapa baiknya Allah SWT, dalam HR Bukhari dan Muslim menyatakan “Barang siapa berniat berbuat buruk tetapi dia tidak jadi melakukannya, Allah menulisnya di sisi Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna, dan barang siapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allah menuliskannya sebagai satu kesalahan”

Ketika kita berniat yang buruk Allah SWT belum mencatat niat tersebut sebagai sebuah kesalahan, namun penentunya adalah apakah hal buruk tersebut dilakukan ataukah tidak. Jadi mengapa harus berniat / berkeinginan buruk, jika Allah memperbolehkan kita untuk berniat / berkeinginan baik, maka usaha kita yang baik dan tentunya berharap kepada Allah SWT adalah yang terbaiik, sebagaimana di dalam QS. Al Insyirah ayat 8 “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap”, dimana ayat ini bermakna bahwa segala harapan dan keinginan seharusnya hanya ditujukan kepada Allah SWT semata, karena hanya Allah yang mampu memenuhi segala kebutuhan bukan manusia.

 


Komentar